Ketika anak perempuanku masih kecil, dia pernah bertanya padaku: “Cita-cita Ibu dulu apa sih?” Aku jawab “cita-cita Ibu yang sampai sekarang masih jadi cita-cita itu mau jadi penulis!” Anakku bengong, kecewa. Lho kok jadi penulis sih?? Ia memang masih kecil waktu itu, sehingga dokter, pilot, insinyur……yang ada di kepalanya. Setelah aku jelaskan “Banyak penulis hebat bisa mengubah dunia!” Kini dia mengerti dan selalu bertanya :”Kenapa Ibu tidak menulis?”

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

2012 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

600 people reached the top of Mt. Everest in 2012. This blog got about 3.200 views in 2012. If every person who reached the top of Mt. Everest viewed this blog, it would have taken 5 years to get that many views.

Click here to see the complete report.

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

ANALISIS KONTEUDU

ANALISA MEDIA MATERI 2 BA ESTUDANTE SIRA 2012

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

WAKTUKU HILANG KE MANA

Rasanya weaktu berlalu terlalu cepat. Tak terasa kini sudah Hari Raya Idul Fitri 2012. Berarti sudah 2 tahun aku meninggalkan Yogya untuk studi yang terakhir.
Banyak keinginan yang belum terealisir, banyak hasrat yang belum tercapai? Mengapa kehendak hati tidak terlalu kuat? Mengapa disiplin diri kurang? Aku ingin berubah dan harus berubah.
Biarlah kukejar waktuku…….Hingga aku bisa bangga menunjukkan pada anak-anakku dan para cucuku kelak….bahwa aku bisa mengembangkan talenta yang diberikan Tuhan dengan baik.
Semoga Tuhan memberkati keinginan dan usahaku. Amin

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

SUARA HATI

Banyak orang mengatakan, susah untuk menggunakan suara hati akhir-akhir ini. Suara hati sudah tidak didengar. Suara hati tidak pernah digubris. Apa jadinya jika suara hati tidak digunakan?
Yang jelas, kita bisa menjadi manusia yang seenak-enaknya. Semau gue. Mau orang lain terluka hatinya…..kita tidak akan merasa bersalah.

Bagaimana cara menggunakan suara hati? Tes tindakan kita. Kalau kita dicubit sakit, ya jangan mencubit!! Kalau kita diusir seperti anjing sakit……ya jangan mengusir manusia lain seperti anjing.
Bila kita memelihara suara hati…..pasti hati kita tenteram, nyaman dan tidak berontak. Tapi kalau suara hati dibungkam terus menerus, hati juga sudah susah untuk berteriak. Malas untuk protes!!

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

MENGAMATI PERILAKU BINATANG UNTUK

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

MODEL-MODEL KOMUNIKASI

MODEL-MODEL KOMUNIKASI

By: D. Dwikori Sitaresmi

Model
Model menyediakan pandangan sederhana tentang sesuatu untuk dipelajari. Kita memilih elemen-elemen yang menarik dan menggunakan model untuk menolong kita membentuk pertanyaan dan membuat prediksi/ramalan. (Richard S. Croft, 2004, http://www..2.eou.edu/-recroft/MM350/Com Models/)

Model-model komunikasi secara garis besar dibagi 2 yaitu
a. Model informasional
b. Model relasional

Model Informasional : (disarikan dari Richard S. Croft).
1. Model Komunikasi dari Aristotle
Salah satu pengutara model yang terdahulu yaitu seorang filsof Yunanai, Aristotles. Aristoteles menyajikan komunikasi sebagai bentuk komunikasi antara orator dengan audience yang berjumlah banyak.
Modelnya meliputi sedikit elemen. Ini bisa dipahami mengingat Aristoteles hidup sekitar tahun 500 BC. Jadi saat itu belum ada media komunikasi yang muncul untuk membantu orator menyampaikan pesannya kepada audience yang berjumlah banyak. Satu-satunya jalan adalah dengan berpidato di hadapan khalayak (audience) yang berjumlah banyak.

Figura l : Model Komunikasi Arstoteles.

2. Model Komunikasi dari Harold Laswell
Ahli ilmu politik Harold Laswell, menulis pada 1948, pertanyaan : “Siapa yang berbicara, menggunakan saluran apa dan apa efeknya?” (“Who says what in which channel with what effect?”)
Model Laswell memberi perhatian pada impact/pengaruh dari komunikasi. Perhatiannya terjadi ketika Adolph Hitler dan Winston Churchill memberi pengaruh kuat ketika berpidato baik langsung maupun menggunakan radio.
Bukan hal yang mengherankan bahwa sebagai seorang ahli politik, Lasswell tertarik pada efek komunikasi yang dihasilkan oleh kedua orator ulung tersebut, karena keduanya memberikan efek yang luar biasa kepada para audience-nya.
Figura 2 :Laswell’s (1948) Model Komunikasi Laswell

3. Model Komunikasi dari Shannon and Weaver
Model Shannon and Weaver (1949) berfokus pada teori informasi, dan khususnya mengenai transmisi dan penerimaan message.
Modelnya terdiri dari tige elemen: transmiter, receiver dan sumber gangguan. Dalam telekomunikasi, alat transmiter dan penerima bisa berupa alat perangkat keras, yang digunakan antara pengirim dan penerima.
Gangguan bisa berasal dari cuaca yang buruk, peralatan listrik yang terganggu oleh sinyal dsb.
Shannon dan Weaver tampak lebih intens memperhatikan adanya sumber gangguan (noise source) yang mungkin ada saat seseorang melakukan komunikasi menggunakan alat-alat transmisi, karena mereka berdua memiliki pengalaman bekerja di area telekomunikasi dimana sumber gangguan sering muncul. Dengan adanya sumber gangguan (noise source) ini banyak kemungkinan dapat terjadi. Bisa saja pesan (message) yang disampaikan oleh sumber informasi (info source) tidak sampai ke tujuan (destination), bisa juga si penerima salah mengartikan pesan, atau dapat pula pesan justru diterima orang lain.

Figura 3: Model Shannon dan Weaver

4. Model Komunikasinya Schramm
Wilbur Scrharamm (1954) mulai mempelajari komunikasi sebagai disiplin independent.
Salah satu kontribusi Schramm adalah adanya kesadaran tentang field of experience (bidang pengalaman) yang dimiliki pengirim maupun penerima.
Pengirim akan meng-encode pesan berdasarkan atas pengalamannya.
Penerima akan men-decode pesan berdasarkan pengalamannya.
Seandainya antara pengirim dan penerima tidak terdapat pengalaman yang sama, maka komunikasi tidak akan terjadi.
Kemampuan penerima men-decode message sesuai dengan aslinya tergantung dari adanya pengalaman yang sama atas message tersebut.
Misalnya ahli syaraf menyampaikan ilmunya kepada anak berusia 6 tahun, mungkin tidak akan menghasilkan komunikasi, karena penerima tidak mengerti istilah-istilah syaraf yang telah dikuasai oleh ahli syaraf tersebut.

Figura 4 : Model komunikasi Schramm

Model lain dari Schramm meperkenalkan ide tentang feedback dari penerima kepada pengirim pesan.
Dalam model ini komunikasi menjadi proses berkesinambungan dari pengiriman message dan feedback.
Model ini menunjukkan adanya interaksi.
Model ini menunjukkan pesan membuat lingkaran.

Figura 5 : Model lain dari Scrhamm

6. Model dari Berlo
Berlo (1960) mengambil pendekatan yang berbeda untuk mengkonstruksi model.
Ia menciptakan model yang ia sebut sebagai “model dari isi komunikasi. Model ini mengindentifikasi factor-faktor yang mengontrol atas empat elemen komunikasi yaitu: Source/sumber, Message/pesan, Channel dan Penerima.
Model ini menjanjikan pertolongan dalam mengidentifikasi factor-faktor spesifik yang digunakan dalam eksperimen.

Figura 6 : Model dari Berlo dengan nama SMCR

Model relational
a. Model C.K. Ogden dan I.A. Richards (Griffin, 2006: 27):
Model relasional merupakan bagian dari teori tentang sign dan bahasa.
Menurut teori ini, model relational menunjukkan adanya relasi antara sign, object dan reference. Suatu sinyal (sign) dapat diberikan maknanya oleh penerima bila ia memiliki reference, sehingga object dapat ia bayangkan. Seseorang yang tidak memiliki referensi (reference) tidak akan dapat memberikan makna pada sebuah sign. Ketika sign sudah diterima, ia akan menghubungkan dengan referensi yang pernah didapatkannya. Jadi sign itu di dalam kepalanya akan menjadi object suatu benda.
Contoh: Anjing. Bila sign berupa “anjing: telah diberikan, maka si penerima akan menghubungkannya dengan salah satu binatang.
Berarti ia memiliki referensi tentang anjing itu sebagai binatang. Maka object anjing kemudian ada dalam kepalanya. Seandainya ia tidak memiliki referensi tentang anjing, ia tidak akan bisa membayangkan apa pun dalam benaknya.
Ketiga bagian yang berhubungan ini dijabarkan oleh C.K. Ogden dan I.A. Richards dalam sebuah model.

Ide Referensi/Thought of Reference

Symbols Reference

Modelu Relasional Charles Morris (Littlejohn, 2002: 60-61)
Model Morris menunjukkan dalam teorinya, bahwa semua aktivitas manusia meliputi sinyal dan arti dalam berbagai variasi.
Aktifitas itu terdiri dari 3 tahap:
• Persepsi
• Manipulasi
• Konsumasi

Dalam persepsi manusia menyadari adanya sinyal.
Dalam tahap manipulasi, seseorang akan mengartikan sinyal tersebut dan memutuskan cara bagaimana meresponsnya.
Kunsumasi adalah tahap dimana manusia bertindak dengan respon aktual.

Dimensi Tentang sinyal
Sinyal melakukan hal-hal berbeda dalam setiap tahap.
Selama tahap persepsi, sinyal didesain untuk menunjuk, memperlihatkan, atau menghubungkan dengan beberapa obyek atau kondisi.
Selama tahap manipulasi, sinyal cenderung untuk menentukan, menasehati, atau mengatakan kepada kita apa yang harus kita lakukan. Dalam tahap konsumasi, sinyal-sinya memberitahu atau mengevaluasi.
Persepsi sering disebut sebagai waktu detachment, ketika kita melihat situasi dengan objektiv.
Tahap manipulasi sering merupakan waktu dominant, ketika sinyal-sinyal memikul beberapa otoritas.
Dan dalam tahap konsumasi, sering ada perasaan dependence (tergantung) ketika kita menyandarkan diri pada sinyal-sinyal sebagai cara yang terstruktur dalam memberi respons.
Dari ketiga tahap di atas, tampaknya yang paling krusial adalah tahap manipulasi. Ini hanyalah sebutan untuk sebuah tahap dari aktivitas manusia, dimana manusia mulai mengadakan pertimbangan, mau melakukan/memberikan respons apa terhadap sinyal yang telah diterima. Jadi manipulasi di sini jangan dianggap sebuah manipulasi seperti yang dilakukan oleh seorang pejabat negara ketika membohongi rakyat.
Dalam system teori, sebuah system akan dipengaruhi atau mempengaruhi sebuah system. Ketika sebuah system dipengaruhi oleh yang lain, ini disebut sebagai dependent /tergantung/terpengaruh terhadap system lainnya.
Ketika memberi pengaruh pada system yang lain, ini disebut dominant atas system yang lainnya.
Pernyataan detachment ada ketika sebuah system lebih atau kurang otonom.
Jadi, detachment berhubungan dengan persepsi dan desin mode signifikasi.
Dominance berhubungan dengan manipulasi dan factor-faktor yang memberi petunjuk, dan dependence berhubungan dengan konsumasi dan nilai-nilai yang berharga.
Contoh: Seseorang yang menonton televise yang sedang menyiarkan sebuah iklan shampoo terbaru. Dalam tahap persepsi, orang ini menyadari adanya sinyal (adanya shampoo baru). Dalam tahap manipulasi ia mempertimbangkan mau bertindak bagaimana selanjutnya? Apakah akan membeli shampoo baru tersebut atau tidak membeli?
Dalam tahap ketiga yaitu tahap konsumasi ia memutuskan akan membeli shampoo tersebut dan akan mencobanya.

Modelu dari Charles Morris (Littlejohn, 2002: 60-61)

Dominance

B1 B2

E A
D C

Dependence Detachment

A dan C Detachment, menyadari adanya sinyal.
B1 dan B2 : Dominance, manipulasi tindakan.
E dan D : Dependence, fase konsumatori dimana telah memilih tindakan.

***** ***** *****

Refference:

Griffin, EM, A First look At Communication Theory, Sixth Edition, Mc Graw Hill, Boston, 2006.
Littlejohn, Stephen W., Theories of Human Communication, Wadworth, Albuqueque, New Mexico, 2002.
Richard S. Croft, Communication Theory, http://www.2.eou.edu/-recroft/MM350/Com, diakses 30 Juli 2010.

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar