2012 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

600 people reached the top of Mt. Everest in 2012. This blog got about 3.200 views in 2012. If every person who reached the top of Mt. Everest viewed this blog, it would have taken 5 years to get that many views.

Click here to see the complete report.

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

ANALISIS KONTEUDU

ANALISA MEDIA MATERI 2 BA ESTUDANTE SIRA 2012

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

WAKTUKU HILANG KE MANA

Rasanya weaktu berlalu terlalu cepat. Tak terasa kini sudah Hari Raya Idul Fitri 2012. Berarti sudah 2 tahun aku meninggalkan Yogya untuk studi yang terakhir.
Banyak keinginan yang belum terealisir, banyak hasrat yang belum tercapai? Mengapa kehendak hati tidak terlalu kuat? Mengapa disiplin diri kurang? Aku ingin berubah dan harus berubah.
Biarlah kukejar waktuku…….Hingga aku bisa bangga menunjukkan pada anak-anakku dan para cucuku kelak….bahwa aku bisa mengembangkan talenta yang diberikan Tuhan dengan baik.
Semoga Tuhan memberkati keinginan dan usahaku. Amin

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

SUARA HATI

Banyak orang mengatakan, susah untuk menggunakan suara hati akhir-akhir ini. Suara hati sudah tidak didengar. Suara hati tidak pernah digubris. Apa jadinya jika suara hati tidak digunakan?
Yang jelas, kita bisa menjadi manusia yang seenak-enaknya. Semau gue. Mau orang lain terluka hatinya…..kita tidak akan merasa bersalah.

Bagaimana cara menggunakan suara hati? Tes tindakan kita. Kalau kita dicubit sakit, ya jangan mencubit!! Kalau kita diusir seperti anjing sakit……ya jangan mengusir manusia lain seperti anjing.
Bila kita memelihara suara hati…..pasti hati kita tenteram, nyaman dan tidak berontak. Tapi kalau suara hati dibungkam terus menerus, hati juga sudah susah untuk berteriak. Malas untuk protes!!

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

MENGAMATI PERILAKU BINATANG UNTUK

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

MODEL-MODEL KOMUNIKASI

MODEL-MODEL KOMUNIKASI

By: D. Dwikori Sitaresmi

Model
Model menyediakan pandangan sederhana tentang sesuatu untuk dipelajari. Kita memilih elemen-elemen yang menarik dan menggunakan model untuk menolong kita membentuk pertanyaan dan membuat prediksi/ramalan. (Richard S. Croft, 2004, http://www..2.eou.edu/-recroft/MM350/Com Models/)

Model-model komunikasi secara garis besar dibagi 2 yaitu
a. Model informasional
b. Model relasional

Model Informasional : (disarikan dari Richard S. Croft).
1. Model Komunikasi dari Aristotle
Salah satu pengutara model yang terdahulu yaitu seorang filsof Yunanai, Aristotles. Aristoteles menyajikan komunikasi sebagai bentuk komunikasi antara orator dengan audience yang berjumlah banyak.
Modelnya meliputi sedikit elemen. Ini bisa dipahami mengingat Aristoteles hidup sekitar tahun 500 BC. Jadi saat itu belum ada media komunikasi yang muncul untuk membantu orator menyampaikan pesannya kepada audience yang berjumlah banyak. Satu-satunya jalan adalah dengan berpidato di hadapan khalayak (audience) yang berjumlah banyak.

Figura l : Model Komunikasi Arstoteles.

2. Model Komunikasi dari Harold Laswell
Ahli ilmu politik Harold Laswell, menulis pada 1948, pertanyaan : “Siapa yang berbicara, menggunakan saluran apa dan apa efeknya?” (“Who says what in which channel with what effect?”)
Model Laswell memberi perhatian pada impact/pengaruh dari komunikasi. Perhatiannya terjadi ketika Adolph Hitler dan Winston Churchill memberi pengaruh kuat ketika berpidato baik langsung maupun menggunakan radio.
Bukan hal yang mengherankan bahwa sebagai seorang ahli politik, Lasswell tertarik pada efek komunikasi yang dihasilkan oleh kedua orator ulung tersebut, karena keduanya memberikan efek yang luar biasa kepada para audience-nya.
Figura 2 :Laswell’s (1948) Model Komunikasi Laswell

3. Model Komunikasi dari Shannon and Weaver
Model Shannon and Weaver (1949) berfokus pada teori informasi, dan khususnya mengenai transmisi dan penerimaan message.
Modelnya terdiri dari tige elemen: transmiter, receiver dan sumber gangguan. Dalam telekomunikasi, alat transmiter dan penerima bisa berupa alat perangkat keras, yang digunakan antara pengirim dan penerima.
Gangguan bisa berasal dari cuaca yang buruk, peralatan listrik yang terganggu oleh sinyal dsb.
Shannon dan Weaver tampak lebih intens memperhatikan adanya sumber gangguan (noise source) yang mungkin ada saat seseorang melakukan komunikasi menggunakan alat-alat transmisi, karena mereka berdua memiliki pengalaman bekerja di area telekomunikasi dimana sumber gangguan sering muncul. Dengan adanya sumber gangguan (noise source) ini banyak kemungkinan dapat terjadi. Bisa saja pesan (message) yang disampaikan oleh sumber informasi (info source) tidak sampai ke tujuan (destination), bisa juga si penerima salah mengartikan pesan, atau dapat pula pesan justru diterima orang lain.

Figura 3: Model Shannon dan Weaver

4. Model Komunikasinya Schramm
Wilbur Scrharamm (1954) mulai mempelajari komunikasi sebagai disiplin independent.
Salah satu kontribusi Schramm adalah adanya kesadaran tentang field of experience (bidang pengalaman) yang dimiliki pengirim maupun penerima.
Pengirim akan meng-encode pesan berdasarkan atas pengalamannya.
Penerima akan men-decode pesan berdasarkan pengalamannya.
Seandainya antara pengirim dan penerima tidak terdapat pengalaman yang sama, maka komunikasi tidak akan terjadi.
Kemampuan penerima men-decode message sesuai dengan aslinya tergantung dari adanya pengalaman yang sama atas message tersebut.
Misalnya ahli syaraf menyampaikan ilmunya kepada anak berusia 6 tahun, mungkin tidak akan menghasilkan komunikasi, karena penerima tidak mengerti istilah-istilah syaraf yang telah dikuasai oleh ahli syaraf tersebut.

Figura 4 : Model komunikasi Schramm

Model lain dari Schramm meperkenalkan ide tentang feedback dari penerima kepada pengirim pesan.
Dalam model ini komunikasi menjadi proses berkesinambungan dari pengiriman message dan feedback.
Model ini menunjukkan adanya interaksi.
Model ini menunjukkan pesan membuat lingkaran.

Figura 5 : Model lain dari Scrhamm

6. Model dari Berlo
Berlo (1960) mengambil pendekatan yang berbeda untuk mengkonstruksi model.
Ia menciptakan model yang ia sebut sebagai “model dari isi komunikasi. Model ini mengindentifikasi factor-faktor yang mengontrol atas empat elemen komunikasi yaitu: Source/sumber, Message/pesan, Channel dan Penerima.
Model ini menjanjikan pertolongan dalam mengidentifikasi factor-faktor spesifik yang digunakan dalam eksperimen.

Figura 6 : Model dari Berlo dengan nama SMCR

Model relational
a. Model C.K. Ogden dan I.A. Richards (Griffin, 2006: 27):
Model relasional merupakan bagian dari teori tentang sign dan bahasa.
Menurut teori ini, model relational menunjukkan adanya relasi antara sign, object dan reference. Suatu sinyal (sign) dapat diberikan maknanya oleh penerima bila ia memiliki reference, sehingga object dapat ia bayangkan. Seseorang yang tidak memiliki referensi (reference) tidak akan dapat memberikan makna pada sebuah sign. Ketika sign sudah diterima, ia akan menghubungkan dengan referensi yang pernah didapatkannya. Jadi sign itu di dalam kepalanya akan menjadi object suatu benda.
Contoh: Anjing. Bila sign berupa “anjing: telah diberikan, maka si penerima akan menghubungkannya dengan salah satu binatang.
Berarti ia memiliki referensi tentang anjing itu sebagai binatang. Maka object anjing kemudian ada dalam kepalanya. Seandainya ia tidak memiliki referensi tentang anjing, ia tidak akan bisa membayangkan apa pun dalam benaknya.
Ketiga bagian yang berhubungan ini dijabarkan oleh C.K. Ogden dan I.A. Richards dalam sebuah model.

Ide Referensi/Thought of Reference

Symbols Reference

Modelu Relasional Charles Morris (Littlejohn, 2002: 60-61)
Model Morris menunjukkan dalam teorinya, bahwa semua aktivitas manusia meliputi sinyal dan arti dalam berbagai variasi.
Aktifitas itu terdiri dari 3 tahap:
• Persepsi
• Manipulasi
• Konsumasi

Dalam persepsi manusia menyadari adanya sinyal.
Dalam tahap manipulasi, seseorang akan mengartikan sinyal tersebut dan memutuskan cara bagaimana meresponsnya.
Kunsumasi adalah tahap dimana manusia bertindak dengan respon aktual.

Dimensi Tentang sinyal
Sinyal melakukan hal-hal berbeda dalam setiap tahap.
Selama tahap persepsi, sinyal didesain untuk menunjuk, memperlihatkan, atau menghubungkan dengan beberapa obyek atau kondisi.
Selama tahap manipulasi, sinyal cenderung untuk menentukan, menasehati, atau mengatakan kepada kita apa yang harus kita lakukan. Dalam tahap konsumasi, sinyal-sinya memberitahu atau mengevaluasi.
Persepsi sering disebut sebagai waktu detachment, ketika kita melihat situasi dengan objektiv.
Tahap manipulasi sering merupakan waktu dominant, ketika sinyal-sinyal memikul beberapa otoritas.
Dan dalam tahap konsumasi, sering ada perasaan dependence (tergantung) ketika kita menyandarkan diri pada sinyal-sinyal sebagai cara yang terstruktur dalam memberi respons.
Dari ketiga tahap di atas, tampaknya yang paling krusial adalah tahap manipulasi. Ini hanyalah sebutan untuk sebuah tahap dari aktivitas manusia, dimana manusia mulai mengadakan pertimbangan, mau melakukan/memberikan respons apa terhadap sinyal yang telah diterima. Jadi manipulasi di sini jangan dianggap sebuah manipulasi seperti yang dilakukan oleh seorang pejabat negara ketika membohongi rakyat.
Dalam system teori, sebuah system akan dipengaruhi atau mempengaruhi sebuah system. Ketika sebuah system dipengaruhi oleh yang lain, ini disebut sebagai dependent /tergantung/terpengaruh terhadap system lainnya.
Ketika memberi pengaruh pada system yang lain, ini disebut dominant atas system yang lainnya.
Pernyataan detachment ada ketika sebuah system lebih atau kurang otonom.
Jadi, detachment berhubungan dengan persepsi dan desin mode signifikasi.
Dominance berhubungan dengan manipulasi dan factor-faktor yang memberi petunjuk, dan dependence berhubungan dengan konsumasi dan nilai-nilai yang berharga.
Contoh: Seseorang yang menonton televise yang sedang menyiarkan sebuah iklan shampoo terbaru. Dalam tahap persepsi, orang ini menyadari adanya sinyal (adanya shampoo baru). Dalam tahap manipulasi ia mempertimbangkan mau bertindak bagaimana selanjutnya? Apakah akan membeli shampoo baru tersebut atau tidak membeli?
Dalam tahap ketiga yaitu tahap konsumasi ia memutuskan akan membeli shampoo tersebut dan akan mencobanya.

Modelu dari Charles Morris (Littlejohn, 2002: 60-61)

Dominance

B1 B2

E A
D C

Dependence Detachment

A dan C Detachment, menyadari adanya sinyal.
B1 dan B2 : Dominance, manipulasi tindakan.
E dan D : Dependence, fase konsumatori dimana telah memilih tindakan.

***** ***** *****

Refference:

Griffin, EM, A First look At Communication Theory, Sixth Edition, Mc Graw Hill, Boston, 2006.
Littlejohn, Stephen W., Theories of Human Communication, Wadworth, Albuqueque, New Mexico, 2002.
Richard S. Croft, Communication Theory, http://www.2.eou.edu/-recroft/MM350/Com, diakses 30 Juli 2010.

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

TEORI & TEORI KOMUNIKASI

TEORI & TEORI KOMUNIKASI

By: D. Dwikori Sitaresmi

Istilah Teori (Littlejohn, 2002: 20-21)
Teori merupakan suatu upaya serius yang dilakukan para ahli, berhubungan dengan observasi/pengamatan, membuat hipotesis dan membuat revisi.
Tahap–tahap yang dilakukan para ahli dalam menemukan teori:
1. Mengajukan pertanyaan
2. Membuat Hipotesis
3. Mengetest hipotesis
4. Membentuk teori
Pendekatan di atas disebut: Metode hipotetis-deduktif (the hypothetico-deductive method).
Apa gunanya kita mempelajari suatu teori?
• Teori akan menuntun kita untuk memahami berbagai fenomena untuk melakukan tindakan.
• Teori akan menujukkan berbagai pola tentang kejadian-kejadian yang menuntun kita untuk mengetahui apa yang akan terjadi.
• Teori akan membantu kita untuk mengetahui mana yang penting dan mana yang tidak.
Istilah Teori Komunikasi dapat mengacu pada satu teori atau dapat pula berupa desain tentang beberapa teori yang berhubungan dengan komunikasi.
Definisi Komunikasi: (Richard A Croft, 2004- http://www.2.eou.edu/-recroft/MM350)
Ruben (1984) mengatakan bahwa komunikasi adalah suatu informasi yang berhubungan dengan tindakan.
Barelson and Steinder (1964): “Transmisi ide-ide, emosi, dan skill ….dengan menggunakan symbol-simbol”.
Theodorson and Theodorson (1969): “bentuk transmisi/penyampaian informasi, ide, sikap dan emosi dari satu orang atau grup ke yang lain…..yang utama melalui symbol”.
Dari definisi komunikasi di atas, terlihat bahwa adaya informasi, adanya transmisi atau pemindahan dan adanya simbol merupakan hal penting dalam komunikasi.
Komunikasi termasuk interdisplin dalam arti, ilmu-ilmu lain memberi sumbangannya kepada ilmu komunikasi.
Disiplin Ilmu berikut ini memberi pengaruh pada ilmu komunikasi :
 Ilmu Psikologi
 Ilmu Politik
 Ilmu Matematika
 Ilmu Biologi
 Ilmu Sosiologi
 Ilmu Bahasa
 Ilmu Budaya/cultural

Tujuh Tradisi dalam lapangan teori-teori komunikasi
Robert Craig telah memetakan teori-teori komunikasi ke dalam seven traditions:
1. The Socio-Psycological Tradition
2. The Cybernetic Tradition
3. The Retorical Tradition
4. The Semiotic Tradition
5. The Socio-Cultural Tradition
6. The Critical Theory
7. The Phenomenological Tradition
Craig menyadari bahwa feminis, estetika, ekonomika, spriritualitas harus disertakan dan ia menambahkan lagi The Ethical Tradition untuk memasukkan mereka.

PENJELASAN RINGKAS TENTANG SEVEN TRADITIONS (Griffin, 2006: 21-35 ; Littlejohn, 2002: 13-14)
1. The Socio-Psycological Tradition
Para ahli dalam tradisi ini menyadari bahwa kebenaran komunikasi diketemukan melalui pengamatan yang hati-hati dan sistematis. Teori-teori dalam tradisi ini terutama berfokus pada aspek komunikasi yang meliputi ekspresi, interaksi dan pengaruh.
Pembahasan teori-teori dalam tradisi ini menitikberatkan pada perilaku, variabel-variabel, efek, personality/kepribadian dan sikap, persepsi, kognisi, perilaku dan interaksi.
Teori ini menyatakan pengaruh yang besar (powerfull) khususnya dalam situasi dimana personality tampak penting, pertimbangan berdasarkan pada percaya dan perasaan, dan orang-orang memiliki pengaruh yang jelas sekali atas orang lain.
Para ahli teori tradisi ini menyangkal pendapat bahwa masyarakat itu rasional, bahwa individu-individu tahu apa yang mereka pikirkan, dan persepsi merupakan rute yang jelas untuk melihat apa yang nyata.
Psikolog Carl Hovland merupakan salah satu penemu riset eksperimental tentang efek komunikasi.

2. The Cybernetic Tradition
Komunikasi Sebagai Proses Informasi
Komunikasi dalam tradisi ini terutama dilihat sebagai proses informasi, dan problem/masalah yang ditujukan dengan gangguan (noise), beban yang berat dan kegagalan pemakaian. Ia mengirimkan/menggunakan kata-kata seperti pengirim (senders), penerima (receivers), informasi, umpan balik (feedback).
Tradisi cybernetic tampaknya paling masuk akal ketika issue berhubungan dengan pikiran dan otak, rasionalitas dan munculnya sistem yang kompleks.
Umumnya, tradisi ini meragukan argumen yang membuat perbedaan mesin dan manusia atau hal-hal menyebabkan munculnya hubungan efek.
Robert Wiener menggunakan istilah cybernetic untuk menggambarkan area intelgensi artificial/buatan.
Ide komunikasi sebagai porses informasi pertama kali dikemukakan oleh Claude Shanon, yang mengembangkan teori matematika dan transmisi sinyal. Ia tertarik pada masalah bagaimana mengatasi problem teknik dari transfer suara yang sangat teliti.

3. The Rhetorical Tradition
Komunikasi Sebagai Seni Berbicara Kepada Publik.
Teori-teori dalam tradisi ini melihat komunikasi sebagai seni praktis. Komunikator seperti pembicara, media produser, dan penulis menerima masalah atau tantangan yang harus dipecahkan melalui cara mendesain pesan (messages) dengan hati-hati. Komunikastor mengembangkan strategi, pendekatan untuk bergerak ke arah audience. Logika dan emosi menarik adalah gambaran tipikal dalam teori retorika.
Ini berdasarkan pendapat bahwa kata-kata adalah berpengaruh, bahwa informasi digunakan untuk membuat pertimbangan.

4. The Semiotic Tradition
Komunikasi Merupakan proses atas sharing arti melalui sign/sinyal/tanda.
Semiotic adalah study tentang sinyal (signs). Tradisi ini memfokuskan perhatian pada tanda-tanda dan simbol. Tradisi ini memperdebatkan apa yang ada dalam bahasa yang meliputi istilah seperti tanda (sign), simbol, arti, kode, dan pengertian. Kekuatan semiotic terletak pada ide tentang perlunya kesamaan bahasa.
Richard adalah ahli semiotic pertama untuk menggambarkan secara sitematik bagaimana kata-kata bekerja. Menurut Richard, kata-kata merupakan symbol-simbol yang berubah-ubah, tidak memiliki arti yang melekat. Kata-kata bekerja dalam konteks dimana ia digunakan.

5. The Socio-Cultural Tradition
Komunikasai Sebagai kreasi dan penguatan realitas social.
The Sosio-Culturul memiliki premis bahwa ketika orang-orang berbicara mereka memproduksi/menghasilkan dan kembali menghasilkan kultur/budaya.
Edward Sapir dan mahasiswanya Benjamin Lee adalah pioneer dari tradisi sosio-cultural. Hipotesis Shapir tentang relative bahasa adalah srtuktur budayanya bahasa berbentuk apa yang orang-orang pikirkan dan kerjakan.

6. The Critical Tradition
Tradisi ini dikenalkan oleh Frankfurt School, dengan para tokohnya adalah Max Hokheimer, Theodore Adorno dan Herbert Marcuse. Critical theory menjawab masalah-masalah idiologi, power dan dominasi. Hal-hal yang dikupas dalam teori kritik adalah tema-tema seperti idiologi, dialektika, resistensi, munculnya kesadaran, dan emansipasi.
Teori ini memiliki pendekatan yang meliputi kekuatan diri, nilai-nilai kebebasan dan persamaan dan bentuk-bentuk diskusi.

7. The Phenomenological Tradition
Komunikasi merupakan pengalaman diri dan orang lain melalui dialog.
Tradisi teori-teori ini berfokus pada pengalaman personal, meliputi bagaimana pengalaman individu-individu dari yang satu ke yang lain.
Pusat perhatian tradisi ini tekanannya pada persepsi dan interpretasi orang-orang atas pengalaman subyektif mereka. Masalahnya, tidak ada satu orang pun yang memiliki pengalaman yang sama dengan yang lainnya.
Komunikasi dipandang sebagai sharing penglaman pribadi melalui dialog.
Salah satu ahli dalam teori ini adalah Carl Rogers, seorang Psikolog ahli. .

**** ***** ******

Refference:

Griffin, EM, A First look At Communication Theory, Sixth Edition, Mc Graw Hill, Boston, 2006.
Littlejohn, Stephen W., Theories of Human Communication, Wadworth, Albuqueque, New Mexico, 2002.
Richard S. Croft, Communication Theory, http://www.2.eou.edu/-recroft/MM350/Com, diakses 30 Juli 2010.

Dipublikasi di Uncategorized | 2 Komentar